Prestasi terakhir timnas Indonesia yang dapat dibanggakan adalah medali
emas SEA Games Manila 1991. Saat itu, trio pelatih Anatoly Polosin,
Vladimir Urin, dan Danurwindo menerapkan sistem pelatnas jangka panjang
berupa latihan fisik yang berat bagi para anggota skuad timnas.
Pelatnas yang dilakukan selama beberapa bulan itu banyak diserang
kritik, namun akhirnya semua bungkam saat medali emas dikalungkan ke
leher kapten Ferril Raymond Hattu.
Model pelatnas jangka panjang
juga sudah dikenal pada era Tony Pogacnik. Menjelang Asian Games 1962,
dibentuk dua tim, Indonesia Banteng dan Indonesia Garuda, yang
bermaterikan para pemain senior dan pemain muda. Kompetisi yang
terbangun di antara kedua tim dipercaya menghasilkan pemain berkualitas
terbaik yang akan membawa Indonesia berjuang merebut medali emas cabang
sepakbola dalam pesta olahraga terbesar Asia itu.
Bisa dibilang,
pelatnas jangka panjang adalah metode utama yang digunakan untuk
membentuk timnas yang tangguh. Contoh terakhir adalah pelatnas yang
dijalankan Ivan Kolev menjelang Piala Asia 2007, sehingga menghentikan
kompetisi Liga Indonesia selama tiga bulan penuh.
Pada awal
1980-an, muncul terobosan dari Ketua Umum PSSI Ali Sadikin dengan
mengirimkan timnas berlatih ke Brasil. Pilihan ditempuh karena timnas
Merah-Putih mulai kering prestasi, terakhir menjuarai Piala Anniversary
di Jakarta, 1972. Tim dikenal dengan nama Indonesia Binatama. Proyek
ini sempat berjalan selama enam bulan. Akibat bermasalah dengan
kualitas pelatih, proyek dihentikan.
Ide pengiriman tim berlatih
ke luar negeri kembali tercetus pada era kepemimpinan Azwar Anas,
pertengahan 1990-an. Demi cita-cita tampil di pentas dunia pada 2002,
Indonesia mengirimkan tim untuk mengikuti kompetisi di Italia. Bedanya,
kali ini tim yang dikirimkan adalah tim yunior. Kelak tim tersebut
dikenal dengan nama kompetisi U-19 yang mereka ikuti, Indonesia
"Primavera".
Proyek tersebut diulangi setahun kemudian dengan
mengirimkan tim mengikuti kompetisi U-16, dan tentu saja dikenal
masyarakat dengan nama Indonesia "Barretti". Setali tiga uang dengan
proyek Brasil, generasi Primavera dan Barretti gagal membuahkan
prestasi yang gemilang.
Cita-cita menyaksikan anak negeri
bermain di pentas sepakbola dunia ternyata terus hidup sepanjang masa.
Pada 25 Januari 2008, dikirim 25 pemain timnas Indonesia U-16 untuk
mengikuti kompetisi taruna Quinta Division di Uruguay.? Proyek tersebut
direncanakan berlangsung selama empat tahun. Di Uruguay, tim muda
Indonesia akan dilatih Cesar Payovich Perez dan asisten Jorge Anon.
Seperti yang dikutip dari Sinar Harapan, proyek menelan dana Rp12,5
miliar per tahun dan bertujuan mencetak pemain Indonesia yang
berkualitas, bukan sebuah tim seperti generasi Primavera dan Barretti
terdahulu.
Soal pendidikan yang menjadi hak dari para pemain
muda tersebut, Ketua BTN Rahim Soekasah berjanji akan mendaftarkan
mereka ke Sekolah Ragunan dan pendidikan akademik dilakukan dengan
sistem modul.
Tim juga direncanakan berujicoba keliling Asia
pada Juli 2008, saat kompetisi sedang libur, dan diakhiri dengan
bertanding di stadion Gelora Bung Karno, Jakarta. Namun, rencana
tersebut tidak kesampaian. Bahkan untuk mengikuti Piala Asia U-16 di
Uzbekistan, akhir tahun silam, alih-alih mengirimkan tim dari Uruguay,
PSSI memutuskan mengirim tim hasil seleksi lokal.
Pada tahun
pertama, "SAD" [kependekan dari Sociedad Anonima Deportiva -- secara
harfiah berarti "korporasi olahraga"] Indonesia mengikuti kompetisi
mulai Maret hingga November 2008. Selama kompetisi tersebut, SAD
Indonesia bertanding 23 kali, dengan rekor enam kemenangan dan sisanya
kalah. Berkat hasil tersebut, tim masa depan Merah-Putih berada di
posisi ke-19 klasemen akhir Quinta Division. Klub tangguh Uruguay,
Danubio, menjuarai kompetisi.
Ketika masa kompetisi usai, tim
pulang ke Indonesia beserta pelatih Cesar. Sambil beristirahat dan
menjalankan program pribadi, Cesar berkeliling Indonesia untuk mencari
pemain baru yang akan disertakan dalam tim tahun kedua. Seleksi
dilakukan dan hasilnya tujuh pemain baru tampil menggantikan para
pemain yang tercoret.
Kompetisi tahun kedua sudah berjalan dan
sementara tulisan ini dibuat, SAD Indonesia sudah bertanding sebanyak
lima kali dan mencatat rekor satu kemenangan, satu kali imbang, tiga
kekalahan, serta selisih gol 6-5. Tim akan dipersiapkan tampil pada
babak kualifikasi Grup F Piala Asia U-19 di Jakarta. Indonesia
bergabung bersama Australia, Jepang, Singapura, Cina Taipei, dan Hong
Kong.
Masih panjang jalan generasi Uruguay ini untuk menjadi
pemain yang bisa dibanggakan Indonesia. Dan, meski harus terus
menunggu, harapan tetap akan tumbuh...
Anggota Tim Tahun Pertama:
Kiper: Alwi Syahrul Karim, Tri Windu Anggono, Dimas Galih Pratama.
Bek: Taji
Prashetio, Reza Inas Setiarachman, Yericho Christiantoko, Imam Agus
Faisal, Reffa Arvindo Badherun Money, Sutanto, Ferdiansyah, Alfin
Ismail Tuasalamony.
Gelandang: Mochammad Zainal Haq, Ridwan
Awaludin, Davitra, Feri Firmansyah, Finky Pasamba, Lutfi Hidayat,
Ismail Marzuki, Mochammad Chairudin.
Penyerang: Novri Setiawan, Alan Martha, Burhanudin Bayu Saputra, Yandi Sofyan Munawar, Sahlan Sodik, Syamsir Alam.
Anggota Tim Tahun Kedua:
Kiper: Tri Windu Anggono, Dimas Galih, Beny Stya Yoewanto.
Bek: Yericho Christiantoko, Reffa Arvindo Badherun Money, Mokhamad Syaifudin, Sedek Sanaky, Alfin Tuasalamony, Ferdiansyah, Taji Prashetio, Imam Agus Faisal.
Gelandang: Mochamad Zainal Haq, Feri Firmansyah, Ismail Marzuki, Rizky Ahmad Sanjaya Pellu, Abdul Rahman Lestaluhu, Rinaldi Gunapradiptha, Ridwan Awaludin.
Penyerang: Sahlan Sodik, Vava Mario Yagalo, Syaiful Bachri Ohorella, Syamsir Alam, Alan Martha, Novri Setiawan, Yandi Sofyan Munawar.
[*dicetak miring: pemain baru]