Kiki Sak Nana dan
Dae Dosuiko keluar sebagai king of drift setelah menjuarai kompetisi
Drifting Spirit and Speed of God 2009 di Thailand (5/7) lalu.
Kiki terbaik di kelas A Mmax Drift
Speed Party, sedang Dae di kelas B Achilles Drift Competition. Kedua
drifter yang tergabung di tim PTT Performa Achilles ini membagi kiat
suksesnya.
TREK LOW SPEED
Pada seri ke-3 dari 10 yang direncanakan, tercatat sekitar 40 peserta
di tiap kelas ikut meramaikan gelaran di lapangan parkir Bitec ini.
Ketika sesi latihan resmi, D panggilan Dae benar-benar memanfaatkan
dengan baik.
?Mencoba trek jadi hal penting untuk
saya. Karenanya setiap ada kesempatan pasti saya gunakan. Untuk event
ini kira-kira saya mencoba trek sebanyak 7 putaran,? ucap pria dengan
rambut gimbal dan gondrong ini.
Tak percuma D mencoba banyak putaran. Terbukti saat sesi kualifikasi
hasil yang diperolehnya tergolong baik. Dalam kualifikasi, tiap peserta
diberi kesempatan mencoba trek sebanyak dua kali putaran. Dari 40
peserta yang ikut kualifikasi hanya diambil sebanyak 16 besar saja
untuk masuk babak berikutnya.
Setelah lolos kualifikasi, D selalu berusaha menjadi yang terbaik. Tiap
ada kekurangan selalu dikomunikasikan, baik itu dengan mekanik maupun
rekan satu tim. Hasilnya, podium pertama mampu digapainya.
?Beruntung mobil tak ada masalah.
Memanaskan ban jadi hal salah satu kunci supaya tetap dapat grip,? seru
pria pengguna Nissan Silvia S13 ini.
Selain tak ada masalah, pria yang juga berprofesi sebagai DJ ini juga
menyukai trek yang dipakai. Menurutnya, walau terkesan mudah namun
tetap tricky. Ada beberapa titik yang tetap harus menggunakan rem
tangan. Maksudnya jelas supaya arah mobil tetap dapat dikendalikan.
Berbeda yang dilakukan oleh Kiki. Ia
justru tak terlalu banyak latihan. Terhitung saat latihan
resmi, hanya
melakukan 3 kali putaran.
?Latihan banyak memang perlu, namun
karena trek ini tergolong kecil, saya hanya perlu untuk membiasakan
diri. Kunci menang ada di diri kita dan teknik untuk menghadapi lawan.
Jangan samakan antara satu lawan dengan lainnya,? ucapnya.
Karena tergolong kecil, Kiki tak menyukai trek di Bitec ini.
?Sebenarnya kami masih memiliki banyak lokasi trek yang jauh lebih
besar, tapi dengan adanya trek ini justru memberi variasi tersendiri,?
sebut pria berkepala plontos ini.
Trek di Bitec diungkapkan Kiki sebagai trek low speed. Karena saat
melakukan drift kecepatan yang diraih hanya di bawah 140 km/jam. ?Bisa
lebih namun resikonya sangat tinggi, yakni harus keluar dari trek atau
terlalu sering bermain rem tangan. Di drifting sebisa mungkin rem
tangan tak dipakai,? ungkapnya. Dikatakan low speed karena di beberapa
trek saat drift bisa dilakukan di atas 150 km/jam.
Sayang keberhasilan D dan Kiki tak diikuti oleh tiga rekan lainnya.
R.Kula?chart RH dan Yen yang ikut di kelas A harus berakhir di sesi
babak pertama saja. ?Turbo ada masalah. Mudah-mudahan bisa sampai
final,? ucap Oat panggilan Kulachart sesaat setelah sesi latihan. Oat
menggunakan Nissan Silvia S13, sedang Yen yang menggunakan Nissan
Cefiro bermasalah di sistem transmisi.
PENILAIAN SEDERHANA
 |
Sistem yang dipakai oleh tim juri untuk
menilai ternyata sangat sederhana. Jika ajang Formula Drift dikenal
dengan alat drift box dan drift radio, pada drifting di Thailand sama
sekali tak dipakai. Untuk memberi penilaian saja, tiga juri tak punya
kertas form. Sungguh amat sangat sederhana.
Walau demikian, tak mudah untuk bisa lolos dari jerat kualifikasi. Saat
kualifikasi untuk bisa masuk 16 besar, tiap drifter diberi kesempatan
sebanyak 2 kali. Dalam tiap putaran tersebut harus mengenai tanda.
Peserta dan juri di Thailand memanggilnya dengan sebutan apex. Dibuat
dari cat yang disemprot ke sebagian badan trek.
Pada titik yang telah ditetapkan tadi, bagian depan mobil harus
menge?nai?nya. Jika tidak, maka bendera merah akan diangkat oleh
marshal, yang berarti mengurangi nilai sebanyak 10. Namun jika menabrak
kun atau ban akan langsung diberi nilai 0.
SULAP LAPANGAN PARKIR
Lokasi lapangan parkir yang disulap
jadi trek, tergolong kecil. Jika dibanding lapangan parkir belakang
Sirkuit Sentul, masih lebih besar milik Sentul.
Kondisi aspal yang dipakai juga bukan layaknya aspal sirkuit. Aspal
halus namun masih terlihat batu-batunya. Tak sehalus aspal jalan
protokol di Jakarta.
Demikian juga untuk layout trek yang dipakai. Sangat sederhana namun
tak mengurangi tingkat keahlian mengemudi. Sejak awal start sampai apex
pertama berbentuk 200 derajat, berarti setengah lingkaran lebih
sedikit. Dari apex pertama menuju apex kedua hanya berjarak kurang
lebih 30 meter dan berbentuk S. Setelah melewati apex kedua berarti
selesai.
Karena berlokasi di lapangan parkir, pembatas lebar trek hanya
menggunakan ban dan kun. Mengantisipasi mobil nyelonong dan menabrak
pagar tembok diberi lapisan gabus yang cukup tebal.